kekavigi.xyz

Kabar Singkat

Ditulis tanggal oleh A. Keyka Vigiliant. Revisi terakhir pada tanggal . Konten diterbitkan dibawah lisensi CC BY-SA 4.0.


Saya mengganggap diri saya kurang emosional: menjalani aktivitas dengan pikiran, apa yang seharusnya terjadi, apa yang sebaiknya terjadi. Ketika kondisi menguntungkan, oh oke dan menyesuaikan tindakan; Ketika kondisi merugikan, oh oke dan menyesuaikan tindakan. Alasan perilaku itu karena saya mengamati, bahwa saya-saat-emosi tidak mengambil keputusan yang sama saat tidak-emosi; umumnya karena salah menaksir peluang/resiko suatu tindakan (lebih optimis atau pesimis dari standar ideal pribadi). Penyebab lain, karena saya tidak/sulit menilai emosi: saya tidak tahu parameter apa saja, yang menurut orang lain atau masyarakat gunakan, mengategorikan emosi menjadi "sedih", "bahagia", "marah", dll. Menggunakan konsep yang berbeda (salah paham) saat berkomunikasi (atau memaknai komunikasi yang terjadi) adalah hal yang buruk bagi semua pihak yang ikut bagian. Ibaratnya seperti orang yang mengernyitkan wajah padahal Anda berkata "parfum ini baunya oke," saya tidak ingin orang mengernyitkan wajah ketika saya berkata "saya sedang merasa [nama emosi]."

Akan tetapi ada kalanya saya merasa nyaman1 untuk "melanggar" paragraf "prinsip pribadi" di atas, dan mengatakan bahwa saya merasa senang dan cemas, setidaknya untuk beberapa bulan terakhir dan yang akan datang.

Ah, ada baiknya saya menjelaskan kalimat itu, dimulai dari emosi yang masyarakat anggap positif: "senang." Saya mengganggap diri saya senang karena: ada sekelompok hal yang saya cita-citakan terjadi, saat ini sebagiannya sedang terjadi, dan saya mengganggap peluang sisanya terjadi cukup signifikan. Hal-hal ini menurut saya bisa memperbanyak kemampuan diri, pengalaman, dan/atau ilmu saya; dan menghasilkan perilaku yang sama seperti saat saya mendengarkan orang lain "mendapatkan tujuan hidup." Apa saja hal-hal itu?

Sedangkan untuk emosi kedua, cemas, itu karena saya menduga ada hal-hal eksternal (hal-hal yang secara praktikal tidak dapat saya pengaruhi) dengan potensi untuk mengubah cara saya beraktivitas menjadi lebih buruk/sulit, dengan mekanisme yang tidak disangka; yang hanya dari dugaan itu saja, telah mengubah cara saya beraktivitas dan/atau berpikir. Malangnya, saya tidak menemukan sesuatu yang spesifik, yang tepatnya menjadi alasan saya cemas. Namun, itu berkaitan dengan teknologi/informasi di Indonesia: Pusat Data Nasional yang diretas dan diduga dikorupsi, pengadaan satelit yang dikorupsi, pengadaan BTS yang dikorupsi, pemblokiran situs seperti PayPal (tahun 2022) dan baru-baru ini Internet Archive, wartawan dan keluarganya dibakar, paket kepala babi ke kantor Tempo, berbagai kebobolan data di berbagai sektor (tanya saja ke mesin pencari), dan berita-berita lainnya yang tiba-tiba muncul di TV. Kejadian-kejadian ini membuat saya cemas.

Yah, sesuai ungkapan "namanya juga hidup, ada untung ada buntung," saya merasa normal saja2 merasakan dua emosi yang berlainan itu.3. Dan... oke, ini saja kabar singkat dari saya, sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Mengakhiri tulisan tepat setelah menulis "Kejadian-kejadian ini membuat saya cemas." memang terlihat absurd. Namun saya memang berniat hanya untuk menyampaikan kabar singkat kondisi saya, bukan membuat analis, kesimpulan panjang lebar, maupun menyusun daftar tindakan, terkait emosi-emosi ini.

Pembaruan Agustus 2025

Ada beberapa perubahan dan hasil kecil sejak saya menulis bagian di atas.

Pertama, program penyinggah analisa mesin catur sekarang lebih matang. Saya berhasil membuat semacam halaman kuis, yang menyajikan suatu posisi catur yang telah dianalisa secara acak (pada rentang skor yang ditetapkan oleh pengguna), dan selanjutnya menanyakan balasan terbaik untuk posisi tersebut. Saya menganggap "kuis" ini lebih baik dari versi halaman latihan di Chess.com dan Lichess, karena saya dapat berlatih mencari balasan terbaik pada posisi-posisi yang tidak menguntungkan (misal, posisi dengan skor -2 atau lebih buruk). Saat mengerjakan itu, saya sempat kebingungan dengan SQLite, karena dua perintah SQL yang setara memiliki selisih waktu eksekusi yang besar. Saya sampai saat ini belum mendapat jawaban pasti, tetapi menduga dari tampilan opcode, hal tersebut adalah dampak dari keputusan saya membuat tabel (untuk menyimpan hasil analisa) dengan WITHOUT ROWID. Walaupun saya terpaksa membuat perintah SQL yang lebih rumit, tabel WITHOUT ROWID lebih hemat memori penyimpanan ketimbang tabel SQL pada umumnya.

Omong-omong tentang tabel, program penyinggah ini dapat dibuat "terdistribusi." Setidaknya dalam pengertian, program ini dapat dipasang di banyak tempat, tetapi hanya menggunakan satu database untuk menyimpan data analisa; jadinya hasil analisa suatu pengguna program dapat dinikmati oleh semua pengguna lainnya. Tentu SQLite bukan solusi yang tepat untuk kasus ini, melainkan database client-server seperti PostgreSQL. Namun kendalanya, saya tidak tahu cara mencegah seorang pengguna jahat yang entah-dengan-cara-apa mengirimkan hasil analisa palsu dan merusak konten database… oke, saya terpikir beberapa cara, dan dengan membaca beberapa buku/algoritma/referensi, mungkin tahu beberapa alternatif lain lagi maupun untung-ruginya. Namun kecuali seseorang (mungkin saya sendiri) sudi menyiapkan waktu luang beberapa hari dan beberapa kaleng kopi Nescafe; saya tidak ingin serius memikirkan masalah rumit ini.

Kedua, saya kembali aktif menjawab soal-soal Project Euler. Dalam sembilan hari terakhir, saya berhasil menjawab sebelas soal; dan saya bangga dengan solusi-solusi yang saya buat, setidaknya dibandingkan dengan saya beberapa tahun lalu (mungkin karena tidak menduga solusi soal-soal itu bisa didapatkan di dalam waktu sekian detik saja). Selagi masih ada semangat ini, saya sedang aktif mengerjakan soal-soal OSN matematika tingkat SMA, dan mencoba mempelajari kurikulum pendidikan matematika SMA saat ini. Entahlah, mungkin menjadi pengajar tidak sebegitu menakutkan. Oh… semoga keseruan Project Euler ini cukup untuk saya ingin kembali membaca buku statistika-nya Walpole.

Ketiga, saya berhasil menyederhanakan situs ini; setelah membaca dan mempertimbangkan isi tulisan Why your website should be under 14kB in size (dan beberapa referensi terkait). Walau juga saya sampaikan, saya melihat situs ini sudah optimal (keadaan saat ini sudah terletak di batas Pareto); meningkatkan kualitas suatu aspek akan mengurangi kualitas setidaknya satu aspek lainnya. Karena saya ingin membuat situs lebih cepat di-load, saya terpaksa rela melakukan hal-hal berikut:

Masih ada beberapa hal lain yang terjadi, tetapi mereka belum bertunas; belum layak untuk dikabarkan. Jadi, cukup sekian dan sampai jumpa lain hari? Terima kasih sudah membaca.

Catatan kaki

  1. Mungkin lebih tepatnya, saya tidak menemukan resiko, atau menganggap resiko dapat diurus tanpa usaha yang berarti, dari tindakan yang sedang/akan saya lakukan.

  2. Tidak merasa kewalahan sampai kesulitan melakukan rutinitas sehari-hari.

  3. Setidaknya saya mengganggap hahwa, masyarakat mengganggap bahwa kedua emosi tersebut berlainan. Apakah anggapan ini masuk akal? saya tidak/belum mencari tahu.